Pelajar Indonesia, Stop Bullying! – Bimbingan Belajar Smartplus
logo
Report Online SMARTPLUS

Absen Siswa

Raport Siswa

Report Try Out

Report Diskusi

Report Nilai Harian

(021) 7777 686

support@bimbelsmartplus.co.id

Top

Pelajar Indonesia, Stop Bullying!

Pelajar Indonesia, Stop Bullying!

oleh: Ed Rahmadian

Tindakan bullying di sekolah kian meresahkan banyak pihak, terutama orang tua. Pasalnya, tindakan atau perilaku bullying ini seolah menjadi tren di kalangan pelajar (kalangan muda). Padahal, dampak psikologis yang diakibatkan oleh bullying cukup berbahaya dan berdampak jangka panjang hingga menimbulkan trauma. Kasus video bullying yang dilakukan oleh senior terhadap juniornya baru-baru ini pun memberikan fakta bahwa bullying sudah semakin mengancam keamanan siswa di sekolah. Video bullying berdurasi sepuluh menit tersebut menampilkan senior yang mem-bully juniornya dengan memaksa menghisap rokok, dan mengenakan pakaian dalam diluar seragam. Hal ini sangat memprihatinkan jika dipandang dari segi moral, sudah jelas siswa sekolah di Indonesia sudah kehilangan moral dan akhlak mereka. Parahnya, pihak sekolah seolah segan untuk mengurus masalah bullying ini.

Dilansir dari tempo.co, bahwa Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi mengancam akan memecat kepala sekolah yang membiarkan muridnya di-bully (korban bully dalam video senioritas). Menurut Tri, kasus itu seharusnya dibawa ke ranah hukum. Sebab, jika diselesaikan secara kekeluargaan, ia khawatir proses penyelesaian tidak akan tuntas dan berat sebelah. “Seharusnya dibuat efek jera terhadap orang yang melakukan bully itu,” ujarnya. Kejadian ini jelas amat mengkhawatirkan, menimbang pelakunya adalah siswi sekolah mengenah atas. Belum lagi dampak yang muncul pada korban yang mendapat perlakuan tidak wajar dari kakak kelasnya, tentu ini akan menjadi kendala bagi korban untuk bersosialisasi di waktu yang akan datang.

Lalu, Apa bully itu sendiri?

Bullying adalah sebuah tindakan yang tidak menyenangkan, dilakukan oleh (kebanyakan) para pelajar akibat oleh ketidakberdayaan seorang individu terhadap individu lainnya, dilansir dari stopbullying.gov (12/06/16). Perilaku bullying merupakan perlakuan yang mungkin bahkan terjadi berulang kepada korban. Dalam hal ini, pelaku dan korban bullying memiliki dampak jangka panjang yang serius. Korban bullying, otomatis akan merasa inferior bila bertemu orang baru atau lingkungan baru, hal ini berpotensi membuat bully terhadap korban berulang. Sebaliknya, pelaku bully, akan menjadi inisiator bully di lingkungan baru, merasa superior terhadap orang lain, dan berpotensi memiliki perangai buruk berkepanjangan.

Bullying dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan, seperti yang diuraikan oleh Rigby (2015), bullying memiliki unsur-unsur perilaku negatif seperti keinginan untuk menyakiti, ketidakseimbangan kekuatan, pengulangan atau repetisi, juga kesenangan yang dirasakan oleh pelaku saat pihak korban merasa tertekan. Ketidakseimbangan kekuatan terjadi pada pelaku bullying yang lebih tua, lebih kuat, lebih besar, lebih mahir secara verbal, dan berstatus sosial lebih tinggi dari korban. Bullying juga dapat berupa perilaku melukai secara emosional atau luka fisik, melibatkan tindakan yang menimbulkan rasa senang di hati sang pelaku saat menyaksikan penderitaan korbannya. Adapun unsur lain dari bullying adalah teror, unsur ini muncul ketika ekskalasi bullying semakin meningkat, yang mana teror ini bukan saja hanya sebuah cara untuk mencapai bullying tapi juga sebagai tujuan bullying. Maka, tidak heran apabila bullying dikategorikan sebagai tindakan kriminal, menimbang tindakan pelaku dan dampak yang diterima korban cukup serius.

Bullying sebagai aktivitas yang tidak terarah

Bullying yang kerap terjadi di sekolah merupakan sebuah bentuk kegiatan pelajar (pemuda) yang dapat dikategorikan sebagai aktivitas yang tidak terarah. Kekosongan aktivitas positif memicu para pelaku bullying untuk menciptakan ‘sensasi’ atau ‘aktivitas’ di lingkungannya demi menunjukan eksistensi. Dengan melakukan bullying, pelaku berusaha mendominasi lingkungan (kerabat, teman sejawat, orang lain) dengan tujuan agar pelaku diakui secara status dan keberadaanya. Tidak sampai disitu, tindakan bullying yang dilakukan oleh seorang individu di lingkungannya juga bertujuan untuk memperoleh kuasa atas orang lain (korban). Jika hal ini dibiarkan, maka sudah pasti sumber daya manusia Indonesia kedepan akan berakhir dengan trauma masa lalu akibat bullying. Menimbang dampak bullying yang cukup membahayakan secara psikis.

No Comments

Post a Comment